Lubang Gamang Gastrokulinaria: Refleksi atas Peristiwa Rasa
![]() |
Peristiwa rasa bukan hanya persoalan lidah yang mencecap, tapi juga pengalaman di mana tubuh, ingatan, dan hamparan objek saling bertaut. Tatkala lidah mencecap, batas antara diri, makanan, dan selingkungnya menjadi sumir, lantas apa yang kita cecap perlahan merasuk, menjadi bagian dari tubuh kita.
Di situlah rasa bekerja sebagai peristiwa sosial. Ia membawa jejak kultural, relasi kuasa, bahkan kesejarahan yang tidak selalu kita sadari. Kenikmatan yang dirasakan tidak sepenuhnya milik kita sendiri. Ia dibentuk, diarahkan, dan kadang dikendalikan.
Meski demikian, rasa juga tidak perlu harus dipahami secara utuh, apalagi dengan tergesa-gesa diproduksi menjadi dikotomi sederhana enak/tidak enak. Saya pernah dan sering melakukannya. Kadangkala wacana tersebut muncul sebagai performativitas diri saya sebagai seorang yang merasa 'paham' gastrokuliner, namun pada akhirnya justru mencerminkan sikap keangkuhan yang nihil empati dan mematikan kreativitas.
Sikap performativitas di atas juga terlihat dalam konten gastrokuliner di media sosial. Food vlogger/reviewer kerap menggaungkan jargon klise seperti, 'mantap', 'kaldunya medok', dan bahkan ungkapan 'maknyus' yang legendaris. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para pembuat konten tersebut, saya bosan —tapi saya juga paham mengapa ini digaungkan. Jargon tersebut memang ekspresi yang dipanggungkan para gastro-influencers guna memancing perhatian prosumen media sosial.
Bagi saya peristiwa rasa bukanlah perayaan atas kenikmatan mengkonsumsi produk kuliner sebagaimana yang diekspresikan gastro-influencers, tetapi juga kegelisahan, ketakutan, dan keambyaran manusia yang dipicu oleh apa yang tersaji di depannya (lihat Paul Rozin, 1999).
Aspek menggelisahkan tersebut memang kurang saya eksplorasi—dan sepertinya tidak banyak gastro-influncers yang membahas ini. Adapun yang berusaha akhirnya secara tidak sengaja terjerumus ke dalam wacana romantisme nostalgia.
Memang, yang namanya merefleksikan dan mengolah kegelisahan dari memori-memori kurang sedap pun terbilang sulit. Jangankan merefleksikannya, mencari akar kegelisahannya pun membuat bulu kuduk berdiri dan perut mual-mual, karena mau tidak mau kita harus menggali sumbu pengalaman laranjana (perih yang nikmat, dan nikmat yang perih) yang berkaitan dengan makan, kebertubuhan, dan relasi sosial kita.
Merujuk pada Arjun Appadurai (1981) dan Massimo Montanari (2006), makanan merupakan produk budaya karena menjalani proses produksi, penyajian (plating), dan setelah dikonsumsi sesuai dengan konteks kebudayaan suatu kelompok masyarakat (kolektivitasnya, konteks agama dan budaya, preferensi (selera), serta kebertubuhannya). Selain itu, makanan juga merupakan suatu medium komunikasi yang sarat dengan kode-kode sosial. Makanan, maka dari itu, tidak hanya menjadi objek hasil cipta karsa rasa manusia, tetapi juga situs produksi dan negosiasi makna yang melahirkan relasi kuasa (hirarki) berdasarkan kuantitas, kualitas, serta jenis makanan yang dimiliki suatu kelompok.
Artinya, selera dan cita rasa tidak hadir secara alamiah, melainkan konstruksi suatu kelompok sosial. Apa yang dianggap highbrow (adiluhung/gourmet/mutakhir) dan lowbrow (rendah/murahan/kuno) merupakan produk rezim gastro-kuliner. Dari situ, saya pikir kita perlu memandang kritis makanan yang kita konsumsi. Bukan hanya persoalan kesehatan jasmaniah dan rohaniah, tetapi juga 'kesehatan' sosialnya. Pihak mana saja yang paling diuntungkan dari pembelian produk makanan ini? Bahan-bahan dasarnya didapatkan dari mana? Bagaimana proses pengolahannya? Apakah kita membeli karena kita butuh atau karena paparan visual produk di medsos yang membuat kita penasaran?
Apa yang ditawarkan bukanlah kepuasan cecap rasa, tetapi justru kesadaran bahwa kita hidup dalam kehampaan, dan aktivitas konsumsi (makanan) menjadi salah satu cara untuk berlindung dari kehampaan tersebut. Kita selalu berusaha merangkak mencapai puncak kenikmatan maha dahsyat, tetapi sungkan menatap lubang gamang yang maha perih. Lubang gamang yang menurut saya merupakan kesadaran betapa menggelisahkan problematika pangan di sekitar kita. Dari proyek food estate yang meluluhlantakkan lahan adat dan memutus tradisi pangan lokal, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memperjelas kekacauan struktural pemerintah.
Mungkin, peristiwa rasa, pada purna pikir saya, bukan hanya tentang menemukan puncak kenikmatan. Melainkan tentang keberanian untuk hadir, merasakan, dan menyadari hantaman kegelisahan yang ada di depan kita, dan tetap bergerak dalam arus kemenjadian—laku menjelajahi lubang gamang gastrokulinaria.
Referensi bacaan:
Appadurai, A. (1981). “Gastro-Politics in Hindu South Asia”, The American Ethnological Society.
Montanari, M. (2006). Food is culture. Columbia University Press.
Rozin, P. (1999). "Food is fundamental, fun, frightening, and far-reaching". Social research, 9-30.
Smith, D. W. (2012). Essays on Deleuze. Edinburgh University Press


Komentar
Posting Komentar