Gastropolitik ala Arjun Appadurai: Makan, Makna, dan Relasi Kuasa
Makan untuk hidup itu keniscayaan. Akan tetapi, dalam alur hidup sehari-hari, makan telah melampaui itu semua. Dalam suatu hidangan dan aktivitas di selingkungnya, terdapat persoalan identitas, sosio-ekonomi, psikologi, dan budaya yang saling bertumpang tindih. Alhasil, makan memang merupakan aktivitas yang menyenangkan, tetapi juga menggelisahkan dan implikasinya luas (lihat Paul Rozin,1999).
Di perkara teknis, pembicaraan mengenai makan dibingkai ke dalam istilah 'gastronomi', gabungan dari kata gastro (perut) dan nomos (ilmu atau aturan), yang berarti aturan atau ilmu tentang makan yang baik. Sebuah kredo yang tidak hanya berkutat pada kenikmatan mencecap, tetapi juga kerumitan proses kreatif; referensi pengetahuan juru masak, alur bahan mentah, dan kesadaran ekologis. Konsep 'gastropolitik' Arjun Appadurai (1981) dapat menjadi jalan untuk membicarakannya lebih lanjut.
![]() |
| Sumber foto: Xinhua News Agency, 1950 (dari Chinese Food, Liu Junru, hal. 33) |
Appadurai (1981) melihat makanan sebagai sistem komunikasi yang sarat dengan kode-kode sosial. Melalui praktik memasak, menyajikan, dan mengonsumsi makanan, berbagai relasi kuasa, identitas, serta hirarki sosial dinegosiasikan dan dipertahankan. Karena itu, makanan menjadi arena produksi makna yang turut membentuk kesadaran kultural suatu masyarakat.
Pemahaman Appadurai tentang lapisan makna praktik gastro-kuliner berangkat dari kosmologi Hindu di India. Dalam kosmologi Hindu, makanan tidak hanya dipahami sebagai benda material, melainkan bagian dari tatanan moral dan kosmis. Karena itu, pengelolaan makanan juga menjadi sarana pengelolaan relasi sosial. Di titik inilah gastropolitik hadir.
Dalam ritual persembahan Hindu, manusia digambarkan sebagai pengolah hasil alam. Ia mengolahnya menjadi suatu hidangan lalu dipersembahkan kepada para dewa. Setelah para dewa 'mengonsumsi' persembahan tersebut, hidangannya kemudian 'dikembalikan' kepada manusia dalam bentuk 'sisa' persembahan.
Makan, dalam praktik ini, bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan bagian dari sirkulasi makna antara manusia, alam, dan yang transenden. Relasi kosmologis tersebut kemudian beresonansi dalam hubungan antar manusia. Di sini pula kita melihat aspek artisanal yang sadar akan pentingnya ekologi lanskap pangan. Maka dari itu, perkara gastro-kuliner dalam konteks gastropolitik merupakan siklus kehidupan yang estetik. Pembacaan ini menjadi semakin menarik ketika ditempatkan berdampingan dengan gagasan Nicola Perullo (2016) mengenai mencecap sebagai pengalaman estetis.
Jika Appadurai membantu memahami aktivitas makan sebagai arena tarik ulur kekuasaan, Perullo membantu melihat bagaimana kuasa tersebut beroperasi melalui pengalaman sensorik. Gastropolitik, dengan kata lain, tidak hanya bekerja pada tingkat struktur sosial, tetapi juga pengalaman rasa. Dalam logika Perullo, estetika yang dibicarakan bukan pada dikotomi indah dan tidak indah, atau enak atau tidak enak, melainkan pada pemahaman bahwa pengalaman mencecap menjadi cara untuk memproduksi pengetahuan.
Akan tetapi, hegemoni dikotomi pengalaman tersebut selalu hadir di setiap cecap. Dalam masyarakat kontemporer, relasi kuasa yang berakar pada kosmologi dan tradisi kini juga dimediasi oleh pasar. Industri pangan, media, dan korporasi turut menentukan gaya masakan seperti apa yang dianggap modern, bahan pangan mana yang dianggap istimewa, serta selera seperti apa yang layak dirayakan.
Gastropolitik tidak lagi hanya berlangsung di dapur rumah tangga, tetapi juga dalam jaringan produksi dan konsumsi global. Apa yang hadir di meja makan keluarga (domestik) seringkali dipengaruhi oleh pengalaman dan/atau referensi eksternal (publik), ataupun sebaliknya. Ada pula pengalaman domestik dihadirkan ke dalam wilayah publik (dijual), misalnya restoran-restoran yang menyajikan tidak hanya resep keluarga tetapi juga narasi kenangan (nostalgia).
Dalam cairnya pengalaman tersebut, kita dapat melihat bahwa keputusan pemilihan menu (baik di meja keluarga atau restoran), ditentukan oleh logika dan aturan main yang kontekstual. Pada akhirnya memasak dan makan bukan perkara kebutuhan biologis, tetapi juga hasil kebiasaan, otoritas, dan preferensi yang terus menerus berubah.
Sebagai penutup, dari diskusi 'gastronomi', 'gastropolitik', dan 'estetika mencecap', kita dapat melihat bahwa praktik gastro-kuliner sarat dengan relasi antar manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan aktor non manusia (alam). Makan pun pada akhirnya tidak pernah menjadi aktivitas yang netral. Dalam setiap hidangan tersirat jejak relasi kuasa, identitas, ingatan, serta negosiasi antara manusia, alam, dan berbagai institusi yang berupaya mengatur kehidupan. Oleh karena itu, tatkala lidah mencecap, kita juga sedang mencecap dunia beserta segala pertarungan makna yang menyertainya.
Referensi:
Appadurai, A. (1981). “Gastro-Politics in Hindu South Asia”, The American Ethnological Society.
Perullo, N. (2016). Taste as an Experience, the philosophy and the aesthetics of food.
Columbia University Press, New York.
Rozin, P. (1999). "Food is fundamental, fun, frightening, and far-reaching", Social Research, 9-30.


Komentar
Posting Komentar